Begini Cara Mengukur Kinerja Branding Untuk Bisnis Anda

mengukur-kinerja-branding

Membangun brand identity merupakan proses panjang yang membutuhkan waktu yang lama dan sumber daya yang tidak sedikit. Setiap interaksi positif yang terjadi antara konsumen dengan brand akan menciptakan pandangan yang positif pada brand sehingga meningkatkan intensitas transaksi pembelian produk. Ketika brand sudah menjadi pilihan utama konsumen (top of mind), maka akan terjalin hubungan jangka panjang antara brand dengan konsumen. 

Untuk memastikan strategi branding mencapai tujuannya, sangat penting bagi perusahaan untuk membangun dan mengembangkan ukuran kesuksesan mereka sendiri. Mereka yang paham nilai dari perubahan secara bertahap dan fokus pasti tidak mengharapkan hasil yang instan, dan berpikir secara jangka panjang. Untuk itu dibutuhkan pengukuran performance branding atau kinerja branding. 

Secara definisi, performance branding atau kinerja branding adalah ukuran hasil brand terhadap sasaran yang awalnya ditetapkan. Kinerja brand akan bersifat sangat pribadi dan dapat bervariasi dari satu brand ke brand lainnya. 

Pada artikel ini, kami akan membahas bagaimana cara mengukur kinerja branding untuk keberhasilan branding Anda. Dengan berdasarkan pada buku Designing Brand Identity dari Alina Wheeler yang menyebutkan ada 3 hal yang menjadi matriks pengukuran branding. Simak lengkapnya dibawah ini.  

Pengukuran Persepsi (Perceptual Metric)

Pengukuran persepsi berkaitan dengan apa yang dipikirkan konsumen terhadap brand. Pengukuran persepsi konsumen terhadap brand ini dapat dibagi menjadi empat hal diantaranya kesadaran terhadap brand (brand awareness), asosiasi terhadap brand (brand associations), keinginan terhadap brand (brand intent), dan kesan terhadap brand (brand experience). Semuanya akan dikupas satu persatu di bawah ini. 

1. Kesadaran Terhadap Brand (Brand Awareness)

Kesadaran merek atau brand awareness adalah tingkat kesadaran konsumen suatu perusahaan. Ini mencakup kemampuan konsumen untuk mengenali brand serta mengaitkannya dengan produk atau layanan tertentu. Ada 3 metrik yang digunakan untuk mengukur brand awareness:

  • Kesadaran Top of Mind (Top of Mind awareness)

Kemampuan konsumen untuk memikirkan brand dalam kaitannya dengan kategori produk atau layanan. Ini dapat dibagi menjadi top of mind awareness yang diminta atau yang tidak diminta.

  • Mengenali brand (Brand recognition)

Kemampuan konsumen untuk menamai suatu brand saat disajikan dengan tagline, logo, atau aset merek lainnya.

  • Ingatan terhadap periklanan (Advertising recall)

Kemampuan konsumen untuk secara akurat mengingat atau mendeskripsikan iklan yang baru-baru ini mereka lihat dari brand tertentu.

Baca Juga: Cara Membuat Instagram Ads Yang Menarik

2. Asosiasi Terhadap Brand (Brand Associations)

Asosiasi merek atau brand associations adalah pikiran dan perasaan yang dimiliki konsumen terhadap brand Anda, baik secara fungsional maupun emosional. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur brand associations:

  • Asosiasi fungsional (Functional associations)

Sifat yang dianggap konsumen berasal dari brand yang dipertimbangkan, faktor ‘logis’ seperti nilai uang, tingkat kualitas dan etika perusahaan.

  • Asosiasi emosi (Emotive associations)

Sifat yang dimiliki pelanggan (terkadang secara tanpa sadar) dianggap berasal dari brand yang berfokus di sekitar perasaan, seperti nostalgia, kebahagiaan, atau kemarahan.

3. Keinginan Terhadap Brand (Brand Intent)

Brand intent sebenarnya mirip dengan brand awareness, tetapi lebih lama di sepanjang perjalanan pelanggan. Pengukuran brand intent ini lebih difokuskan pada apakah konsumen akan mempertimbangkan untuk menggunakan suatu brand dan apakah mereka lebih suka menggunakan satu brand daripada brand lainnya. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur brand intent:

  • Pertimbangan (Consideration)

Persentase konsumen yang akan atau telah mempertimbangkan untuk menggunakan suatu brand untuk memenuhi kebutuhan mereka.

  • Preferensi (Preference)

Persentase konsumen yang lebih memilih menggunakan suatu brand di antara sekelompok orang lain.

Baca Juga: Mengenal Brand Positioning dan Tips Praktis

4. Kesan Terhadap Brand  (Brand Experience)

Brand experience melibatkan ukuran umum suka dan tidak suka terhadap suatu brand, termasuk kemungkinan untuk merekomendasikan brand kepada teman atau keluarga dan tingkat kepuasan berdasarkan pengalaman terkini. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur brand experience:

  • Skor promotor bersih (Net promoter score)

Skor antara -100 dan +100 yang membandingkan persentase detraktor (mereka yang tidak akan merekomendasikan brand) dengan promotor (mereka yang akan merekomendasikan brand).

  • Kepuasan konsumen (Customer satisfaction)

Skor yang menilai seberapa puas pelanggan saat ini. Berguna untuk mengumpulkan umpan balik tentang interaksi tertentu dan brand touchpoint.

  • Skor upaya pelanggan (Customer effort score)

Skor yang mengukur seberapa besar upaya yang diperlukan pelanggan untuk menggunakan produk atau layanan dan seberapa besar kemungkinan brand akan terus membayarnya.

  • Sentimen (Sentiment)

Skor persentase yang diperoleh dari social listening yang membandingkan percakapan yang menyenangkan tentang suatu brand, dengan percakapan yang tidak menyenangkan.

  • Skor kepercayaan bersih (Net trust score)

Skor yang mengukur seberapa tepercaya brand yang ditemukan pelanggan.

Pengukuran Perilaku (Behavioral Metric)

Pengukuran perilaku berkaitan dengan aktivitas konsumen terhadap brand. Perilaku konsumen yang diukur dengan dua metrik yaitu interaksi (engagement) dan pembelian (purchase). 

1. Interaksi (Engagement)

Pengukuran engagement berfokus pada bagaimana orang berinteraksi dengan bisnis di luar perilaku pembelian murni, biasanya yang berkaitan dengan perilaku online. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur engagement:

  • Aktivitas website (Website activity)

Pengukuran mencakup jumlah kunjungan, sesi, durasi sesi, waktu rata-rata yang dihabiskan di halaman, aliran perilaku, bounce rate, dan sebagainya.

  • Rasio klik-tayang iklan (Ad click through rate)

Perbandingan frekuensi iklan ditampilkan (tayangan) dengan frekuensi iklan yang benar-benar di-klik.

  • Performa email (Email performance)

Mengukur tingkat pengiriman, rasio terbuka, dan rasio klik dapat membantu mengukur tingkat keterlibatan yang dihasilkan email Anda.

  • Penyebutan sosial (Social mentions)

Pengukuran ini mencakup total berapa kali suatu brand secara aktif disebutkan di berbagai saluran media sosial.

  • Share of Voice 

Ini sering kali mengacu pada pangsa pasar brand dari iklan berbayar di ruang yang kompetitif, tetapi juga dapat mencakup metrik lain seperti volume penelusuran istilah secara organik.

Baca Juga: Mengenal Share of Voice dan Kegunaannya untuk Brand Anda

Pembelian (Purchase)

Pengukuran yang berfokus pada bagaimana orang berinteraksi dengan bisnis dalam hal perilaku pembelian. Biasanya berhubungan langsung dengan corong konversi brand. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur pembelian:

  • Pemakaian (Usage)

Persentase orang yang menggunakan brand di antara audiens tertentu.

  • Kebaruan (Recency)

Seberapa baru pelanggan tertentu membeli dari brand.

  • Frekuensi (Frequency)

Frekuensi rata-rata pelanggan membeli selama periode tertentu.

  • Nilai (Value)

Nilai rata-rata pembelian pelanggan selama periode waktu tertentu.

  • Tingkat konversi (Conversion rate)

Persentase kunjungan (baik online atau di toko) yang menghasilkan penjualan dan atau pelanggan.

Pengukuran Finansial Perusahaan (Financial Metric)

Pengukuran finansial paling sering ditemukan pada dashboard penjualan. Tetapi pengukuran ini juga penting bagi seorang brand manager. Pasalnya, mereka mewakili perwujudan dampak brand pada inti perusahaan. Berikut ini metrik yang digunakan untuk mengukur finansial atau performa perusahaan:

  • Pangsa pasar (market share)

Proporsi pembelian yang dilakukan dengan perusahaan dibandingkan dengan pasar yang lebih luas.

  • Volume penjualan (Sales volume)

Jumlah total produk atau layanan yang dijual oleh sebuah perusahaan selama periode waktu tertentu. 

  • Pendapatan penjualan (Sales revenue) 

Nilai total produk/layanan yang dijual oleh perusahaan selama periode waktu tertentu.

  • Biaya per akuisisi (Cost per acquisition)

Ukuran berapa biaya untuk mendapatkan satu pelanggan atau penjualan.

  • Nilai umur pelanggan (Customer lifetime value)

Total pengeluaran rata-rata pelanggan selama seluruh interaksi mereka terhadap perusahaan atau brand.

Baca Juga: Istilah Penting dalam Digital Marketing yang Wajib Anda Ketahui!

Nilai jangka panjang brand bagi bisnis dapat diukur dalam konteks di seluruh pengukuran persepsi, perilaku, dan finansial. Dengan melakukan pengukuran terhadap kinerja branding, maka Anda akan lebih memahami apa saja yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan brand memiliki identitas yang kuat sehingga menjadi brand pilihan utama bagi konsumen.

Anda bingung bagaimana memulainya? Atau ingin mulai membuat strategi branding bagi bisnis tapi tak tahu dari mana memulainya? Tak usah panik, ada ChubbyRawit digital marketing agency di Jakarta yang akan selalu siap menjadi partner Anda dalam membantu dan memberikan solusi atas permasalahan Anda. Konsultasikan kepada kami permasalahan, ide maupun kebutuhan bisnis atau brand Anda kepada kami dengan klik Contact Us dibawah ini, konsultan kami akan segera menghubungi Anda.