Business

Mengenal Hyper-personalization: Masa Depan Marketing 4.0

Chubbyrawit inhouse calendar 2020 web banner 04 36 scaled

Hyper-Personalization marketing 4.0 ChubbyRawit

Tak dapat dipungkiri, saat ini dunia sedang digempur dengan tren digital. Tak terkecuali dengan dunia marketing yang juga turut berkembang menyesuaikan dengan zaman dan tren terbaru. Keberadaan teknologi digital ini membuat semua data tersimpan. Dan selanjutnya, dari data-data ini dapat diolah oleh para pelaku bisnis atau marketer untuk dapat meningkatkan kembali keterlibatan calon pelanggan dan pelanggan untuk kembali datang dan melakukan pembelian.

Dengan keberadaan data yang telah terkumpul tersebut akan lebih memudahkan dalam mengintegrasikan style dan substance. Artinya, brand atau bisnis tidak hanya mengedepankan branding yang keren, tetapi juga dituntut untuk menyuguhkan konten yang relevan dan bagus dengan kemasan yang kekinian kepada para pelanggannya. Dengan kata lain, konten harus kuat namun tetap juga harus atraktif agar konsumen menjadi lebih tertarik pada brand atau produk Anda.

Baca juga kenapa bisnis Anda harus hadir secara Online!

Konektivitas machine-to-machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas juga berkembang dalam marketing 4.0. Namun, turut diimbangi dengan pengembangkan konektivitas human-to-human untuk memperkuat customer engagement.

Pada intinya, pengembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu saja. Tetapi bagaimana dengan keberadaan teknologi ini juga bisa membantu brand dalam membangun relasi yang humanis dengan para pelanggannya. Di sisi lain, konsumen juga mengalami evolusi atau perubahan perilaku konsumen. Kini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengambil keputusan dalam membeli produk dan tidak menaruh kepercayaan begitu saja pada brand tertentu.

Perilaku konsumen saat ini sangat bergantung pada ulasan, user generated content dan influencer. Oleh karena itu digital marketing dibutuhkan. Namun, sekarang muncul lagi tantangan baru bagi para pemilik bisnis atau brand di era marketing 4.0. Bagaimana caranya agar membuat brand atau produk Anda menonjol dan diperhatikan? Jawabannya adalah dengan memberikan pengalaman yang sangat bertarget, disesuaikan dan dipersonalisasi secara khusus atau hyper-personalization.

Hyper-personalization: Teknik pemasaran yang sangat bertarget, disesuaikan dan dipersonalisasi secara khusus.

So, what’s the difference between personalization and hyper-personalization? Personalisasi adalah penggabungan informasi pribadi dan transaksional seperti nama, judul, organisasi, riwayat pembelian dan lain sebagainya untuk komunikasi Anda kepada pelanggan. Sedangkan Hyper-personalization satu langkah lebih maju karena memanfaatkan perilaku dan data real-time konsumen untuk menciptakan komunikasi kontekstual yang relevan dengan pengguna.

Contoh praktis personalisasi adalah penggunaan nama depan pelanggan di baris subyek saat mengirim email. Salah satu cara yang bagus, namun kini ternyata sudah ketinggalan jaman untuk menggugah minat konsumen. Hyper-personalization lebih dari itu.

Contohnya, saat pengguna mencari produk sepatu olahraga wanita di aplikasi E-commerce dengan menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Sebuah analisis cepat dari perilaku pengguna tersebut akan mengungkapkan:

  • Tingkat afinitas atau ketertarikan untuk membeli barang diskon
  • Riwayat pencarian dan pembelian sebelumnya untuk merek sepatu ‘X’
  • Pembelian maksimal yang terjadi pada hari Minggu dari pukul 6-9 malam
  • Push notification yang memiliki keterlibatan tertinggi

Dengan kampanye hyper-personalization ini, pemilik brand akan mengirim push notification ke perangkat mobile pengguna yang berisi iklan flash sale sepatu olahraga wanita dari brand X pada hari Minggu, antara pukul 6-9 malam.

Mengapa harus hyper-personalization? Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Accenture menyebutkan bahwa 40 persen konsumen meninggalkan website bisnis dan melakukan pembelian di situs lain atau di toko lain karena mereka diliputi kebingungan karena terlalu banyak pilihan saat mencoba membuat keputusan. Dan sebanyak 75 persen konsumen akan cenderung membeli dari brand atau produk yang penawarannya dipersonalisasi sesuai dengan preferensi individu. Oleh sebab itu, peran hyper-personalization menjadi sangat penting. Ada formula Empat R untuk menjalankan hyper personalization ini, yaitu:

  • Relevance: Berikan promosi yang personal dan relevan kepada konsumen And.
  • Remember: Selalu ingat purchase history pelanggan Anda.
  • Recognize: Ingatlah nama mereka.
  • Recommend: Berikan opsi atau rekomendasi kepada pelanggan Anda berdasarkan history pembelian mereka.

Lantas, bagaimana brand memanfaatkan hyper-personalization ini? Di Indonesia, sudah banyak e-commerce yang beralih ke hyper-personalization dimana artificial intelligence dan machine learning menganalisis keseluruhan faktor untuk menyalakan mesin rekomendasi mereka.

Pada umumnya, hyper-personalization hanya bisa diterapkan untuk jenis bisnis B2C (business to consumer) dan C2C (customer to customer) karena sifatnya yang memberikan personal touch dengan karakteristik yang unik yang hanya bisa dilakukan untuk pelanggan individu.

Selanjutnya, mari kita simak bagaimana beberapa bisnis ini menerapkan hyper-personalization sebagai bagian dari aktivitas digital marketing mereka.

#1. Zalora Indonesia

Siapa yang tak kenal dengan Zalora? Retail online fashion ternama di Indonesia bahkan di Asia yang didirikan oleh Rocket Internet dan beroperasi di beberapa negara di Asia. Kesuksesan Zalora tak lepas dari strategi digital marketing yang cerdas. Lebih dari 50 persen konversi mereka didukung oleh mesin rekomendasi mereka. Dan hal ini berhasil menyumbang sebanyak 80 persen dari penjualan mereka. Email pemasaran dengan personalisasi menjadi kuncinya.

Secara regular, tim Customer Relationship Management (CRM) akan mengirimkan newsletter kepada pelanggan dan menerapkan berbagai teknik pemasaran berbasis data personal untuk hasil yang maksimal.

Zalora memiliki akses ke titik data seperti nama lengkap, kueri penelusuran, riwayat pembelian sebelumnya, afinitas merek, kebiasaan penjelajahan kategori, dan sebagainya. Dengan menggunakan data ini, mereka dapat membuat profil dan memanfaatkannya untuk membuat email yang sangat kontekstual yang menyoroti produk yang konsumen suka.

Misalnya, saya mencari sepatu espadrilles di situs Zalora, maka saya akan menerima kiriman newsletter dari Zalora saat sepatu tersebut sedang diskon atau munculnya produk baru atau new arrival model sepatu tersebut. Algoritma mesin rekomendasi Zalora menunjukkan produk setidaknya berdasarkan 3  poin data yaitu riwayat pembelian Anda sebelumnya, item yang Anda miliki di keranjang belanja Anda dan item yang telah Anda nilai dan sukai.

Zalora - Hyper-Personalization - ChubbyRawit

#2. Yuna

Yuna adalah aplikasi fashion matchmaking pertama di Indonesia yang baru saja hadir di penghujung tahun 2017 lalu. Yuna dibangun dengan menggunakan gabungan Artificial Intelligent (A.I) dan machine learnin serta dipersenjatai dengan chatbot yang sangat responsif. Berbeda halnya dengan Zalora yang menggunakan email marketing, Yuna menitikberatkan chatbot untuk mempelajari gaya fashion, preferensi pengguna dan memadankannya dengan item-item yang ditawarkan oleh merek-merek fashion yang tersedia dalam aplikasi tersebut.

Yuna - Hyper-Personalization - ChubbyRawit

Pengguna memulai registrasi awal dengan pesan chat atau chatbot, kemudian pengguna memilih gaya atau style yang mereka minati. Selanjutnya, Yuna akan membantu merekomendasikan merek yang sesuai dengan karakteristik/kepribadian, style atau pun fashion item yang Anda cari dan minati. Dalam aplikasi ini, beberapa fashion brand ternama yang bergabung di Yuna juga melayani pengguna dengan chatbot. Keberadaan chatbot yang cukup aktif di aplikasi ini akan membantu pengguna seperti memiliki asisten pribadi di dunia nyata.

Yuna - Hyper-Personalization - ChubbyRawit

#3. Shopee

Para penggila belanja pasti mengenal Shopee Indonesia sebagai salah satu surga belanja online. Shopee adalah salah satu situs marketplace yang dikelola oleh SEA Group. Bisnis berbasis C2C (customer to customer) mobile marketplace ini juga ikut menggunakan hyper personalization untuk bisnisnya. Tak hanya email pemasaran tapi juga memanfaatkan push notification dengan personalisasi sebagai kuncinya.

Shopee - Hyper Personalization ChubbyRawit

Tim Customer Relationship Management (CRM) Shopee telah membangun akses data pelanggan seperti nama lengkap, kueri penelusuran,  kebiasaan penjelajahan kategori, dan sebagainya. Dari data ini, Shopee akan selalu merekomendasikan produk yang pelanggan cari atau sukai di aplikasi pelanggan. Dan mereka akan mengirimkan newsletter serta push notification kepada pelanggan saat produk favoritnya sedang diskon.

Shopee - Hyper Personalization ChubbyRawit

Contohnya, saya mencari piyama katun di aplikasi Shopee, maka pada display rekomendasi akan muncul iklan piyama katun seperti yang saya cari. Selain itu, saat saya menandai produk piyama favorit saya, maka saya akan mendapatkan push notification serta newsletter tentang informasi produk tersebut apabila sedang diskon.

So, welcoming hyper-personalization as the next big thing in digital marketing! Dimana, penggunaan pesan singkat atau push notification yang mengubah konten berdasarkan tempat pelanggan berada, berbasis konteks untuk membangun komunikasi yang lebih relevan dengan pelanggan Anda serta hanya mengirimkan pesan yang ingin mereka terima. Harapannya tentu saja akan dapat membantu brand Anda tampil secara menonjol dan meningkatkan engagement serta konversi dengan target konsumen Anda. Are you ready?