Mengenal Emotional Marketing untuk Bisnis

EMOTIONAL MARKETING_

Sadar tidakkah Anda saat memutuskan untuk membeli produk, brand atau layanan. Apa yang mendorong Anda untuk melakukan keputusan pembelian tersebut –  berdasarkan logika atau emosi Anda? Kalau Anda menjawab berdasarkan emosi, tak perlu takut karena sebagian besar orang menentukan pilihan berdasarkan emosi.

Seperti yang diungkapkan oleh Seth Godin, “people do not buy goods & services. They buy relations, stories, and magic”. Ya, emosi adalah pendorong utama dalam seluruh proses pengambilan keputusan termasuk keputusan pembelian. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh seorang Profesor Neuroscience di University of Southern California, Antonio Damasio berpendapat bahwa emosi diperlukan dalam hampir semua keputusan.

Bila demikian, sebagai marketer atau pemilik bisnis ada baiknya untuk mulai melirik dan menjadikan emotional marketing sebagai bagian dari strategi Anda.

“Emotional marketing bukan hanya membuat orang membeli, tapi juga bisa membuat mereka menjadi pelanggan yang lebih loyal”

Harvard Business Review melakukan penelitian yang menemukan bahwa orang-orang yang ‘terhubung secara emosional’ dengan suatu bisnis merasa lebih berharga dua kali lipat sepanjang hidup mereka dibandingkan dengan orang-orang yang hanya merasa ‘puas’ dengan bisnis atau brand.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita selami definisi dari emotional marketing. Emotional marketing mengacu pada upaya pemasaran dan periklanan yang terutama menggunakan emosi untuk membuat audiens Anda memperhatikan, mengingat, berbagi, dan membeli. Biasanya, emotional marketing memanfaatkan emosi tunggal, seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, atau ketakutan, untuk memperoleh respons konsumen.

Setiap marketing approach yang berhasil atau sukses akan menciptakan atau menambah satu atau lebih dari keadaan emosional ini. Ketika cukup banyak emosi ini hadir di dalam kondisi emosional pembeli, keputusan pembelian menjadi tak terhindarkan.

Apa Pentingnya Emotional Marketing?

Seperti sudah dijelaskan di atas, setiap orang memiliki perasaan atau emosi. Dan emosi menjadi pendorong utama dalam seluruh proses pengambilan keputusan termasuk keputusan pembelian. Ada tiga alasan yang membuat emotional marketing layak dijadikan sebagai strategi marketing Anda di tahun 2019 ini.

#1 Membuat Kesan Pertama yang Keren

Kesan pertama terbentuk dalam hitungan detik. Hal yang sama juga berlaku untuk kesan pertama terhadap suatu produk atau brand. Dengan emotional marketing akan membantu membentuk kesan pertama serta membantu brand atau produk itu terngiang dalam pikiran konsumen.

#2 Membantu Konsumen Memutuskan dengan Hati

Studi menunjukkan bahwa orang mengandalkan emosi, bukan informasi, untuk membuat keputusan. Respons emosional terhadap sebuah marketing approach sebenarnya akan mempengaruhi niat dan keputusan seseorang untuk membeli lebih dari sekedar konten iklan atau materi pemasaran.

Dari riset yang dilakukan Hubspot, dari 1.400 kampanye iklan brand, kampanyen dengan konten emosional murni memiliki kinerja dua kali lebih baik (31% vs 16%) dibandingkan dengan yang hanya memiliki konten rasional. Dengan demikian, emotional marketing akan membantu orang memutuskan dengan hati mereka, yang sebenarnya memiliki pengaruh lebih besar pada pembelian daripada berdasarkan rasio atau logika mereka.

#3 Menginspirasi Orang untuk Bertindak

Emotional marketing adalah sarana yang ampuh untuk menghasilkan pembelian. Selain itu, emosi juga mendorong aktivitas lain yang dapat membantu menumbuhkan bisnis dan brand Anda.

Anda bisa melihat bagaimana efek dari emotional marketing secara mendalam seperti dibawah ini.

  • Kebahagiaan membuat kita berbagi … dan berbagi mengarah pada peningkatan brand awareness.
10 years with nike ChubbyRawit
10 tahun dengan Nike. Muncul tepat saat 10 years challenge ramai di Instagram.

 

Seperti halnya berita buruk yang laris manis dibaca, demikian juga dengan kabar baik menyebar dengan cepat. Rasanya kita semua sangat paham bahwa kabar baik dan konten positif menyebar lebih cepat di social media daripada jenis konten lainnya. Yes, happiness is contagious! Saat bahagia, kita cenderung mencerminkan emosi itu, dan membuat sekitar kita ikut bahagia. Hal yang sama juga berlaku untuk konten, produk atau pun brand yang membuat kita bahagia, maka kita pasti akan berbagi informasi ke lingkungan terdekat atau bahkan di social media.

  • Kesedihan membuat kita berempati dan terhubung … dan empati mengarah pada peningkatan pemberian.

Sebuah studi di tahun 2007 mengungkapkan bahwa perasaan empati mengarah pada altruisme dan motivasi untuk bertindak atas nama orang lain. Oleh sebab itu, organisasi-organisasi non profit seperti Act for Humanity, UNICEF, Kitabisa akan menampilkan foto-foto sedih dan lagu yang menggerakkan hati untuk memberikan donasi. Perasaan sedih biasanya akan mengilhami kita untuk bertindak dan membantu orang, yang biasanya bermanifestasi dalam pemberian donasi.

  • Kejutan dan ketakutan membuat kita memilih yang membuat nyaman … dan mendapatkan kenyamanan mengarah pada peningkatan loyalitas brand.

Materi konten Octenilin, karya ChubbyRawit, creative digital marketing agency

Studi menunjukkan bahwa memunculkan rasa takut membuat brand Anda dapat dilihat sebagai satu hal yang baik di dunia yang gelap, artinya konsumen akan lebih bergantung pada Anda dalam keadaan darurat atau buruk sebagai solusi dari ketakutan atau masalah yang dihadapinya.

  • Kemarahan dan semangat membuat kita keras kepala … dan keras kepala menyebabkan konten viral dan pengikut yang setia.

Coba Anda perhatikan, video tentang tragedi lokal, tweet war, isu sosial bersama, bahkan masalah politik atau ideologi biasanya memiliki banyak likes dan ribuan komentar. Seperti halnya kebahagiaan, emosi yang kuat seperti kemarahan dan semangat akan menginspirasi orang untuk berbagi konten. Studi menunjukkan bahwa memproduksi konten yang dengan sengaja memunculkan kemarahan dan kecemasan akan menyebabkan viralitas dan meningkatkan jumlah views.

Lalu, bagaimana cara membangun strategi emotional marketing ini? Sabar, simak artikel selanjutnya 😀

Agar tidak terlewatkan artikel-artikel terbaru lainnya seputar digital marketing dan social media, jangan lupa untuk subscribe blog ChubbyRawit!