Filosofi Branding-ChubbyRawit

Sudah membaca post kami sebelumnya mengenai apa itu branding? Jika sudah mari perdalam pemahaman branding kembali di sini.

Sebuah brand yang baik dengan mantap mengetahui siapa mereka dan sangat obsesif dalam memantau bagaimana konsumen melihatnya. Branding mengidentifikasi dan memastikan konsumen melihat gambar yang sama dengan apa yang dilihat oleh brand itu sendiri.

Sydney Evans, konsultan brand, mengungkapkan bahwa filosofi dasar branding itu mencakup pengembangan identitas korporat, berkomunikasi secara efektif dan secara terus menerus berkembang untuk lebih baik.

Mengembangkan Identitas Korporat

Langkah yang paling penting dalam pendekatan ini adalah memiliki gambaran yang jelas tentang brand dan bisnis yang dijalani. Salah satu cara terbaik melalui brainstorming dengan membuat list kata-kata yang mewakili merek tersebut. Kemudian, cobalah untuk mengidentifikasi kata yang satu dengan yang lain dengan menghasilkan visi dan misi. Setelah mengindentifikasi visi & misi, selanjutnya lakukan analisis SWOT untuk membantu mengurangi risiko yang dapat terjadi. Terakhir, brand harus bertanya pada dirinya sendiri apa nilai unik yang dimiliki nya.

Studi kasus

Mari belajar dari seorang pemuda bernama Ralph Lifshitz yang memutuskan untuk membuka bisnis pakaian bergaya Eropa dengan tujuan menarik target kalangan atas, Ia bertanya nama apa yang baik untuk bisnis ini ke temannya. Teman tersebut mendesaknya untuk menamai perusahaan tersebut, “Players”. Hari ini, “Players” kita kenal dengan nama POLO; perusahaan terkenal yang telah menghasilkan miliaran pendapatan.

Nama merek perusahaan, termasuk Polo by Ralph Lauren, Ralph Lauren Purple Label, Ralph Lauren Collection, Black Label, Blue Label, Lauren by Ralph Lauren, RRL, RLX, Ralph Lauren Childrenswear, Denim & Supply Ralph Lauren, Chaps and Club Monaco, merupakan salah satu merek grup yang paling banyak dikenal di dunia. Namun, masing-masing sub brand memiliki identitas yang sangat jelas. Sebagai contoh, Purple Label ditujukan unntuk para pengusaha dengan selera tinggi. Sebaliknya, RLX, sub brand yang bergaya sporty dan atletis yang dapat berbicara kepada jiwa atletis yang miliki.

POLO telah berhasil mengindentifikasi siapa mereka dan tujuan bisnis mereka. Maka dari itu walaupun mereka memiliki banyak sub brand, namun tujuan mereka 1, melengkapi gaya berpakaian kelas atas.

Berkomunikasi

Brand messaging bukan hanya menyampaikan pesan/kepentingan brand terhadap konsumen, namun juga terbentuk perbincangan. Brand yang paling sukses adalah brand yang mampu berbincang dengan konsumen mereka seolah mereka adalah teman baik.

Studi kasus

Tahun 1886, Dr, John S. Pemberton memiliki keinginan untuk membuat minuman ringan. Selama tahun 1970an, iklan mereka mulai mencerminkan brand yang terhubung dengan teman, kesenangan dan masa-masa indah, mulai dari penampilan penyanyi Hiltop yang menyanyikan “I’d Like to Buy the World a Coke” di tahun 1971 atau iklan “Have a Coke and a Smile” di tahun 1979. Generasi 80-an melihat pesan ini dan membuat kata sendiri menjadi “Coke is It!”. Perusahaan tidak diam, mereka mendengar dan merubah pesan menjadi “Catch the Wave” and “Can’t Beat the Feeling” dan menggaet Ray Charles untuk menarik minat demografis yang berubah dengan cepat. Percakapan itu konsisten dilakukan. Tujuannya adalah untuk merespon komunikasi dalam berbagai bentuk.

Coca Cola telah membuktikan bahwa berbincang dengan konsumen telah membawanya ke kejayaan. Dengan mendengarkan konsumen dan berbincang dengan mereka makna pesan brand dan konsumen menjadi satu pemahaman.

Berkembang lebih baik

Zama berubah, trend berubah, kebutuhan masyarakat pun berubah. Maka dari itu perbaikan dalam filosofi brand butuh dilakukan.Perusahaan yang tidak berpengalaman mengembangkan strategi awal dan tidak pernah berkembang. 

Studi kasus

Tahun 1975, seorang entrepreneur inofatif membuka broker diskon di Sacramento, CA. Pada saat itu, bisnis dinilai sangat aneh, namun melalui inovasi, perusahaan segera dikenal karena kemampuannya untuk menyesuaikan bisnis dalam upaya memenuhi kebutuhan pelanggan. Mereka memulai bisnis dengan berfokus pada klien, seperti memperpanjang layanan customer service, dan menjadi perusahaan yang memiliki layanan cs selama 24 jam, 7 hari satu minggu.

Di tahun 1985, perusahaan ini sangat berkembang dengan penghasilan lebih dari 7 Miliar Dollar. Tahun 2002, perusahaan yang sekarang dikenal dengan nama Schwab, telah meluncurkan sebuah alternatif untuk penelitian investasi, Schwab Equity Ratings®, dan dua layanan konsultasi baru untuk investor, Schwab Private Client ™ dan Schwab Advisor Network. Pada tahun 2004, Schwab memulai langkah berani untuk memfokuskan kembali kebutuhan klien melalui proyek “Ask Chuck”.

Schwab, telah membuktikan perkembangan perbaikan brand dibutuhkan mengikuti kebutuhan pelanggan.

Kesimpulan

Memulai perencanaan brand memang dibutuhkan waktu, seperti seorang pelukis yang sedang membuat masterpiec. Dibutuhkan keterampilan, kreativitas dosis yang luar biasa, waktu, berpikir di luar kotak dan inspirasi dari mana saja.

Di ChubbyRawit, kami membantu usaha kecil, menengah dan perusahaan besar untuk menemukan identitas brand yang diinginkan. Hubungi kami segera, konsultan kami akan membantu Anda menemukan solusi terbaik untuk Brand Anda.