Tren Branding 2020

 

Membaca tren brand kedepan sebenarnya sulit. Tapi kami coba merangkum dengan dasar beberapa artikel lain yang membahas hal serupa. Diramu dengan pengamatan kami tentang brand di beberapa tahun terakhir. 

Berbicara tentang tren berarti bicara tentang kecenderungan. Kemana brand-brand ini sedang mengarah. Dalam konteks brand, sederhananya, kebanyakan brand sekarang lagi ngapain sih? Melakukan pergerakan apa? Bagaimana memasarkan produk mereka? 

Menariknya semakin kesini beberapa brand justru tak sebegitunya memperhatikan tren. Mengingat tren memiliki sifat sementara. Sewaktu-waktu dapat berubah tergantung kecenderungan mayoritas itu sendiri. Brand mulai mengalihkan perhatian pada hal yang lebih bersifat jangka panjang. Disinilah jati diri asli dari suatu brand berperan. 

Ya, mungkin Anda mulai sering mendengar kata-kata culture atau roots dalam pembahasan mengenai brand. Menunjukkan kini brand mulai menyadari pentingnya bersikap autentik. Mengulik jati diri lebih dalam dan menyampaikannya dengan tepat agar terhubung dengan audiens yang juga tepat secara real. Menghindari kepura-puraan. Mengutamakan apa yang benar-benar brand percaya dan perjuangkan. Jadi mungkin saja masih ikut tren tapi dengan syarat: tidak mengorbankan jati diri. Terkesan kontradiktif, tapi bisa jadi tren brand di 2020 adalah malah tidak mengikuti tren.

Berikut ini daftar turunan dari kalimat terakhir di atas. Istilah tren kali ini mungkin tidak seperti biasanya yang kerap mengarah pada kulit, tampilan dan fashion semata. Sebagian besar list sebenarnya hampir memiliki energi yang sama. Autentisitas. Kami urutkan terbalik. Nomor pertama diletakan bukan tanpa alasan. Seperti kata pepatah terkenal ‘save the best for the last’. Walau mungkin tidak sampai membuat Anda terkejut, tapi nomor satu adalah inti dari tren brand yang coba kami rangkum kali ini. 

#6 Organic Influencer

Pernah denger kasus dimana brand ambassador atau influencer yang lagi gencar-gencarnya mempromosikan suatu brand tiba-tiba ketahuan sehari-hari malah pake brand lain? Nah kira-kira gitu. Setelah sekian lama audiens disuguhkan strategi marketing dengan influencer, kini audiens mulai bisa merasakan dan mengenali mana yang tidak riil karena memenuhi pesanan endorsement dan mana yang betul-betul dapat dipercaya. 

Brand kini cenderung lebih selektif memilih influencer mana yang bisa benar-benar mewakili brand value mereka. Sejalan dengan apa yang brand percaya dan perjuangkan. Angka followers atau subscribers pun tak lagi menjadi satu-satunya patokan. Lifestyle dan memiliki audiens yang tepat lebih menjadi pertimbangan.

Agung Hapsah yang betul-betul menggunakan asus di aktivitas profesionalnya.

#5 Adaptable Logo

Logo erat kaitannya dengan brand. Logo adalah wajah brand. Penanda hal-hal dibaliknya. Sebuah identitas. Berkembangnya penerapan logo di berbagai media menjadikan fleksibilitas logo hal yang patut diperhitungkan. Wujud logo yang bervariasi tapi tetap dapat dikenali menjadi tantangan tersendiri. Jika berhasil tercapai, dapat dibilang brand akan lebih luwes beradaptasi dalam platform apapun. 

Adaptable logo, source: designerpeople

Sebut saja brand streetwear asal New York, Supreme atau brand lokal asal Bandung, Maternal Disaster yang merilis berbagai macam varian produk mulai dari sekecil gunting kuku sampai sebesar tenda. Merchandise dari sebuah brand pun kini jadi memiliki kemungkinan baru tidak terbatas payung, tote bag, tumbler atau atau kaos saja. 

Adaptable Logo. Source: Maternal Disaster
Adaptable Logo Supreme. Source: highsnobiety

#4 Cross Culture Collaboration

Memang bukan hal baru. Kolaborasi kerap dilirik karena dapat menjadi sarana bertukar audiens. Mengenalkan ide ke segmen pasar lain. Melebur dua identitas atau lebih dalam satu project memiliki nilai antisipasi tersendiri. Pun kini bentuk kolaborasi semakin dalam dan berkembang. Semakin dalam mengakar pada suatu culture dan berkembang mempertemukan brand-brand yang seolah “beda dunia”.

Menoleh ke 2019 kemarin dapat ditemukan beberapa brand seperti Ageless Galaxy yang mengeluarkan koleksi apparel bersama Bakmi GM. Starcross, brand clothing asal Jogja yang juga merilis koleksi bersama Indomie. Ultra Milk yang menggaet Museum of Toys untuk memproduksi mainan urban yang ramai-ramai di-custom seniman-seniman kondang. Di awal 2020 ini, Gojek baru saja merilis buku kolaborasinya bersama platform digital “Nanti Kita Cerita Hari Ini” bertajuk “Nanti Kita Cerita tentang Driver Gojek”.

Instagram : @agxlyco
Instagram: @starcrossclothing
Instagram : @museumoftoys

#3 Serve your Community

Membangun loyalitas audiens adalah salah satu investasi jangka panjang yang kini mulai disadari brand. Audiens yang banyak tapi datang dan pergi tak lebih utama dibanding audiens sedikit tapi berkualitas dan loyal. Audiens yang loyal bisa secara suka rela memberitakan tentang brand tersebut. Untuk itu terhubung dengan audiens yang tepat adalah kunci. Bagaimana audiens bisa ikut merasa memiliki dan dapat lebih terlibat dalam pengembangan brand itu sendiri. 

Namun, seperti yang pernah disampaikan seorang ahli brand asal Amerika, Marty Neumeier, loyalitas tidak dimulai dari customer, tapi brand terlebih dahulu loyal pada customer sampai akhirnya terjalin loyalitas mutual. Disinilah pentingnya memberi pada komunitas. Peka mendengarkan masalah mereka dan menyediakan apa yang betul-betul dibutuhkan. 

Di 2019, ada banyak pergerakan brand berbasis komunitas yang tumbuh secara signifikan. Seperti NKCTHI, Jouska, MamaPedia dan Glints.

Instagram : @nkcthi

#2 Offline Presence

Udah revolusi industri 4.0 kok masih aja ngomongin offline? Itu dia, dalam dekade belakangan brand sedang fokus-fokusnya dengan semua pergerakan berbau online. Sampai lupa real connection yang sebetulnya jauh lebih bermakna. Eits, tapi bukan berarti langsung balik kanan bubar jalan ngelupain semua kisah online yang sudah dibina sebelumnya. Bahkan kehadiran offline sebuah brand bisa banget mendorong keberadaan onlinenya. Jadi semakin solid dan kuat. 

Di 2019, tren yang dibahas di atas seringkali diintegrasikan dengan aktivasi offline. Bisa dengan membuat popup store, social experiment yang direkam lalu diunggah di platform digital, talk show, sampai ikut event pameran dengan teaser dan UGC (user generated content) di social media

#1 Tell Your Brand Story

Seperti yang dijanjikan sebelumnya, semua point di atas sebetulnya mengakar pada poin satu ini. Brand tidak lagi hanya soal berjualan dan meraup untung sebesar-besarnya. Bukan hanya soal fitur apa yang disediakan atau semurah apa harga promo yang diberikan. Karena kedua hal tersebut bukan jaminan audiens bisa menetap dan loyal. Strategi perang harga dan spesifikasi segudang mungkin saja tetap berujung keberhasilan. Tapi sampai kapan? Untuk terhubung dengan audiens yang loyal butuh lebih dari itu. 

Seperti salah satu kalimat terkenal dari Seth Godin “People like us do thing like this”. Orang bergagasan serupa akan cenderung berkumpul. Menceritakan bagaimana sebuah brand tersebut ada merupakan salah satu cara untuk dapat menarik perhatian audiens loyal yang memiliki ide dan pikiran yang sama. Sebagaimana Tokopedia mendorong penggunanya untuk mulai aja dulu, atau Gojek yang meyakinkan bahwa semua pasti ada jalan. Menyampaikan misi dari brand lebih dari sekedar product atau jasa. Menginspirasi semua orang saat teringat brand tersebut atau sebaliknya, teringat sebuah brand karena kalimat inspirasi tertentu. 

Campaign gojek dan tokopedia dengan misi inspiratif “pasti ada jalan” dan “Mulai aja dulu

Instagram : @hira_imaji
Tokopedia

Sepertinya paragraf penutup tidak lagi diperlukan karena kesimpulannya sebenarnya sudah terpapar banyak sebelum daftar di atas kami bahas. Tapi, kami merepetisi sebagai penekanan, kesadaran otentisitas brand kini semakin meningkat. Audiens pun lebih peka merasa mana konten yang jujur dan semakin haus dengan koneksi sosial yang riil. Jika belum sampai ke sana mungkin bisa dimulai dengan mengaudit apa yang brand Anda sudah lakukan.