Millenial dalam berkarier- ChubbyRawit blog post

Bagi generasi millenial yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2000-an, uang bukanlah segalanya dalam karier. Sudut pandang mereka soal karier berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karier di mata generasi millenial, sama seperti melihat teknologi terbaru: instan, open, dan limitless.

Jika Anda memiliki pekerja generasi millenial harus mengetahui juga bahwa generasi ini melihat sebuah perubahan dalam lingkup pekerjaan merupakan hal yang normal. Agar tetap kompetitif, pekerja millenial senang mendapatkan kompensasi yang memiliki unsur values, attitudes, dan lifestyles. 

 

Pekerja millenial merasa nyaman mengeluarkan ide-ide cemerlangnya jika kantor mereka membuat ruang kerja yang berkonsep santai dan bebas, tidak dibatasi dengan meja kubikel. Terlebih, jika di kantor ada free lunch dan snack. Dijamin, mereka mau berlama-lama di kantor, tanpa menghiraukan jam kerja.

Perusahaan Price Waterhouse Cooper (PwC) memprediksi pada tahun 2020 mendatang, separuh dari tenaga kerja di dunia akan terisi oleh generasi millenial. Inilah alasannya, generasi millenial dalam karier hangat diperbincangkan belakangan ini karena mereka ke depannya dapat menjadi pemimpin di sejumlah industri.

 

Nah, berikut 3 (tiga) hal yang diinginkan millenial dalam kariernya:

Fleksibitas Jam Kerja

Millenial dalam berkarier- ChubbyRawit blog post

Pekerja millenial senang dengan fleksibiltas dalam jam kerja. Dalam kaca mata millenial, ‘apa yang dapat mereka kerjakan dan dedikasikan untuk perusahaan’ lebih utama dibanding jam kerja di kantor.   

Menyadari karakteristik dari pekerja millenial tersebut, beberapa perusahaan besar saat ini memberikan kebebasan untuk para karyawannya menyusun jadwal kerjanya sendiri. Asalkan, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan baik sesuai tenggang waktu.

Virgin, Best Buy, dan Evernote bahkan menerapkan kompensasi baru yang ekstrem untuk para pekerjanya, yaitu liburan tanpa batas waktu. Kebijakan ini agar karyawan berlibur sesuai kebutuhan selama pekerjaan mereka sudah dikoordinasikan dengan timnya masing-masing.

 

Berikan Pelatihan Terbaik

Millenial dalam berkarier- ChubbyRawit blog post

Dalam karier, sejumlah pekerja millenial tidak memilih pekerjaan karena besaran gaji yang didapatkan. Mereka lebih memilih pekerjaan yang dapat meningkatkan keahlian dan wawasan agar bisa menjadi pribadi yang profesional nantinya.

Program pelatihan terbaik untuk pekerja millenial adalah pengalaman belajar yang kaya akan wawasan, sesuai dengan minat dan bakat, meningkatkan passion, dan mampu membuat mereka menyusun tujuan kariernya. Dari semuanya, pengalaman belajar menempati posisi terpenting  untuk pekerja millenial.

Jika tidak mendapatkan program pelatihan yang baik dari perusahaannya, pekerja millenial tidak segan-segan pindah kerja. Bahkan, demi pengalaman belajar, sejumlah pekerja millenial berpindah-pindah kerja hingga akhirnya menemukan tempat sesuai keinginannya.

Bureau of Labor Statistics mengatakan rata-rata pekerja muda mempunyai 6,2 pekerjaan saat berusia 26 tahun. Dari data itu, perusahaan sebaiknya tidak berpikir panjang untuk membuat konsep sebuah program pelatihan yang menarik perhatian para pekerja millenial.

 

Terkoneksi dengan Perusahaan

Lagi-lagi generasi millenial memiliki sudut pandang yang berbeda, bahkan dapat dikatakan unik yang berhubungan dengan kariernya. Saat mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan, sebagian pekerja millenial akan memiliki 2 (dua) pertanyaan dalam benaknya.

Pertanyaan pertama yang muncul biasanya dikaitkan dengan tujuan pribadi para pekerja millenial, misalnya, bagaimana bisa mencocokkan diri dengan visi misi perusahaan atau bagaimana agar  pekerjaannya di perusahaan tersebut relevan dengan kepribadiannya.

Pada pertanyaan kedua, para pekerja millenial mulai obyektif, berpikir soal perusahaan, tidak terfokus pada dirinya. Misalnya, bagaimana perusahaan berhubungan dengan dunia yang lebih luas, dan apa manfaatnya? Apa perusahaan peduli dengan permasalahan sosial yang sedang trend?

Tidak heran, seorang fresh graduates cepat beradaptasi di sebuah perusahaan dan mudah mengerti pekerjaan sehari-harinya karena kemungkinan besar dia merasakan adanya kesesuaian tujuan pribadi dengan tujuan perusahaan. Pekerja itu juga merasa dia bekerja di sebuah perusahaan yang ‘tepat’ dan ‘hebat’ menurut sudut pandangnya sendiri.

Namun, loyalitas mereka akan terhenti dengan sendirinya, baik cepat maupun lambat karena satu alasan yaitu, penilaian mereka terhadap atasannya. Pekerja millenial tidak merasa nyaman jika atasan tidak memberi tantangan dan tidak memberi arahan yang jelas.

Atasan yang dinilai tidak dapat menjadi teladan, juga menjadi alasan mereka ‘out’. Sebagai atasan, sebaiknya memperlakukan para pekerja millenial seperti mendidik anak sendiri, dengan menjadi teladan. Jika ingin karyawannya disiplin, maka tunjukkan kedisplinan Anda terlebih dahulu.